Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia tergolong tinggi
jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human
Development Report 2010, AKB di
Indonesia mencapai 31 per 1000 kelahiran. AKB di Indonesia masih menjadI salah
satu yang tertinggi di Asia. Tahun 2002, AKI saat melahirkan mencapai 307
per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena
itu, bidan memiliki legitimasi dalam memberikan pelayanan khusus kesehatan ibu,
bayi, dan anak juga berkewajiban mengambil
bagian secara aktif dalam upaya penurunan AKI dan AKB.
Pendirian Bidan Praktek Swasta (BPS) di daerah-daerah
sangat berpengaruh dalam penurunan tingkat AKI & AKB di Indonesia. BPS yang
didirikan harus memiliki kejelasan visi dan misi dan sesuai standar dalam
memberikan pelayanan kebidanan sehingga dihasilkan pelayanan yang berkualitas
dan bermutu. Bidan juga harus mengenali keadaan dan kebutuhan masyarakat yang
ada di lingkungannya tempat ia mendirikan BPS, salah satu caranya adalah dengan
analisa SWOT. Dengan demikian semakin banyak bidan yang terampil dan cekatan
dalam pengambilan dapat pelayanan an keputusan di setiap daerah, terutama untuk
daerah-daerah terpencil yang masih minim sekali fasilitas dan pelayanan
kesehatan, diharapkan tingkat AKI dan AKB dapat ditekan.
Samarinda merupakan ibukota provinsi Kalimantan Timur dengan jumlah penduduk mencapai 881.102 jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistika pada tahun 2012. Pada tanggal 12 November 2011, Kota Samarinda mendapatkan predikat sebagai Kota Sehat dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional. Hal ini membuktikan bahwa penduduk Kota Samarinda memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesehatan.
Dalam upaya mempercepat penurunan tingkat AKI dan AKB di Kota Samarinda, Dinas Kesehatan Kota Samarinda mengadakan pertemuan evaluasi bidan desa se-Kota Samarinda. Upaya ini dilakukan sebagai langkah untuk mewujudkan Visi Pembangunan Kesehatan Tahun 2010-2014 yaitu “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”. Oleh karena itu, peran aktif bidan desa sangat dibutuhkan dalam mewujudkan program Dinas Kesehatan yang salah satunya indikatornya adalah penurunan tingkat AKI dan AKB di Kota Samarinda. Masyarakat Kota Samarinda juga dikenal sebagai masyarakat yang memiliki “selera” yang tinggi dalam hal pelayanan yang disediakan oleh Pemkot Samarinda, salah satunya adalah pelayanan kesehatan khususnya kebidanan. Oleh karena itu, diharapkan bidan dapat meningkatkan mutu pelayanan kebidanan sehingga kesadaran masyarakat dapat meningkat dan Visi Pembangunan Kesehatan 2010-2014 dapat diwujudkan.
Berikut contoh perencanaan pendirian BPS dengan
analisis SWOT
1. Strength (S)
1. Strength (S)
-
Biaya pelayanan kebidanan yang
dapat dijangkau oleh masyarakat.
- Sangat berpegang teguh pada prinsip.
- Tertarik akan perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi terutama dalam bidang kesehatan.
- Memiliki pandangan untuk maju dan berubah.
- Peralatan kebidanan yang lengkap sehingga dapat menunjang pelayanan kebidanan yang diberikan kepada masyarakat.
- Kondisi finansial yang baik.
- Tempat praktek yang bersih dan nyaman.
- Menyediakan jasa senam ibu hamil dan pelatihan persiapan menjadi orang tua.
- Bekerja sama dengan rekan yang berprofesi sebagai ahli gizi untuk mendirikan jasa konsultasi seputar gizi.
- Memiliki jiwa sosial yang tinggi sehingga dapat bersosialisasi dengan masyarakat.
2. Weakness (W)
- Mudah terbawa emosi jika di dalam suasana yang tidak kondusif
- Moody person
3. Opportunity (O)
- Belum ada BPS yang didirikan di kelurahan Kampung Jawa.
- Memiliki relasi yang banyak dan dapat dipercaya dalam upaya pendirian BPS.
- Masyarakat yang cenderung tertarik terhadap suatu hal yang baru dan berbeda dari yang lainnya.
4. Threats (T)
- Masyarakat yang masih mempercayakan pelayanan kebidanan di Puskesmas kelurahan dan Rumah Sakit.
- Banyak lulusan bidan yang berencana untuk mendirikan BPS di kelurahan Kampung Jawa.









0 komentar:
Posting Komentar